Main Article Content

Abstract

Pemaknaan sederhana istilah literasi mengungkap keberadaan budaya literasi (membaca menulis) telah lama ada di bangsa ini. Hal tersebut berarti Indonesia memiliki akar kuat berkaitan dengan budaya literasi. Realita saat ini justru menunjukkan rendahnya literasi Indonesia, dibuktikan melalui beberapa pengujian atau survei. Berbagai upaya dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut, di antaranya adanya GLS dan USAID PRIORITAS. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk menggambarkan subjek tentang situasi dan data yang diperoleh selama pengamatan dan pertanyaan untuk memberikan informasi yang berguna dan mudah dipahami oleh pembaca, dengan meliputi wawancara, dokumentasi, observasi dan literatur lainnya. Upaya tersebut menunjukkan hasil positif dengan meningkatnya skor dan peringakat literasi Indonesia. Banyak pihak bertanggung jawab terkait fenomena literasi ini, tetapi pilar utama sebagai panutan dan inspirator adalah para cendekiawan. Mereka harus berkomitmen penuh untuk melakukan perombakan kultur yang semakin memudar, dengan menduniakan buku di kehidupan masyarakat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bagaimana literasi sejarah di era abad 21 dilaksanakan dengan baik dan berjalan dengan baik, tetapi ada banyak masalah dan kekurangan dalam pemahaman literasi terutam budaya literasi. Dengan pemahaman literasi sejarah ini agar dapat memahami aspek yang mendalam untuk memperoleh ketercapaian dalam literasi sejarah baik dengan tingkat pemahaman sejarah yang lebih kompleks dan dinamis.

Keywords

Literasi Sejarah Era 21 Budaya Implikasi

Article Details

References

  1. Ainia, D. K. (2020). Merdeka Belajar dalam Pandangan Ki Hadjar Dewantara dan Relevansinya bagi Pengembangan Pendidikan Karakter. Jurnal Filsafat Indonesia, 3(3), 95–101. https://doi.org/10.5430/ijhe.v5n3p1
  2. Anggito, A. (2018). Metode Penelitian Kualitatif (ella defri). CV Jejak.
  3. Hamdi, S., Triatna, C., & Nurdin, N. (2022). Kurikulum Merdeka dalam Perspektif Pedagogik. SAP (Susunan Artikel Pendidikan), 7(1), 10–17. https://doi.org/10.30998/sap.v7i1.13015
  4. Hutabarat, H., Elindra, R., & Harahap, M. S. (2022). Analisis Penerapan Kurikulum Merdeka Belajar Di Sma Negeri Sekota Padangsidimpuan. Jurnal MathEdu (Mathematic Education Journal), 5(3), 58–69. http://journal.ipts.ac.id/index.php/
  5. Meiliana, D. (2020). Tidak Ada Penghapusan Pelajaran Sejarah menurut Kurikulum Nasional. Kompas.Com.
  6. Menteri Pendidikan, Kebudayaan, R. dan T. (2022). Salinan Keputusan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia Nomor 56/M/2022 tentang Pedoman Penerapan Kurikulum dalam Rangka Pemulihan Pembelajaran.
  7. Mustaghfiroh, S. (2020). Konsep “Merdeka Belajar” Perspektif Aliran Progresivisme John Dewey. Jurnal Studi Guru Dan Pembelajaran, 3(1), 141–147. https://doi.org/10.30605/jsgp.3.1.2020.248
  8. Ningrum, A. S. (2022). Pengembangan Perangkat PembelajaranNingrum, A. S. (2022) ‘Pengembangan Perangkat Pembelajaran Kurikulum Merdeka Belajar ( Metode Belajar )’, in PROSIDING PENDIDIKAN DASAR, pp. 166–177. doi: 10.34007/ppd.v1i1.186. Kurikulum Merdeka Belajar ( Metode Belajar. Prosiding Pendidikan Dasar, 1, 166–177. https://doi.org/10.34007/ppd.v1i1.186
  9. Pangestu, D. A., & Rochmat, S. (2021). Filosofi Merdeka Belajar Berdasarkan Perspektif Pendiri Bangsa. Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan, 6(1), 78–92. https://doi.org/10.24832/jpnk.v6i1.1823
  10. Rahmawati, F. D., Sutiyah, & Abidin, N. (2022). Urgensi Merdeka Belajar di Era Revolusi Industri 4.0 dan Tantangan Society 5.0. E-Tech. 22(1), 1–15.
  11. Saidillah, A. (2018). Kesulitan Peserta Didik Dalam Proses Pembelajaran Sejarah. Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia, 1(2), 214–235. https://doi.org/10.17977/um033v1i22018p214
  12. Sardiman AM, dan A. D. L. (2017). Buku Guru Sejarah Indonesia Kelas 11. Pusat Kurikulum dan Perbukuan, Balitbang, Kemendikbud.
  13. Sari, E. C. (2022). Kurikulum Di Indonesia : Tinjauan Perkembangan Kurikulum Pendidikan. Inculco Journal of Christian Education, 2(2), 93–109.
  14. Satriawan, W., Santika, I. D., Naim, A., Tarbiyah, F., Raya, B., Selatan, L., Timur, L., Bakoman, A., & Panggung, P. (2021). Guru Penggerak Dan Transformasi Sekolah. Al-Idarah: Jurnal Kependidikan Islam Volume, 11(1), 1–12.
  15. Seixas, P., & Morton, T. (2012). The Big Six. In Learning for Living (Vol. 10, Issue 4). https://doi.org/10.1080/00239707108557675
  16. Setiawan, R., & Aman, A. (2022). The Evaluation of the History Education Curriculum in Higher Education. Paramita: Historical Studies Journal, 32(2), 263–275. https://doi.org/10.15294/paramita.v32i2.34535
  17. Siregar, N., Sahirah, R., & Harahap, A. A. (2020). Konsep Kampus Merdeka Belajar di Era Revolusi Industri 4.0. Fitrah: Journal of Islamic Education, 1(1), 141–157. https://doi.org/10.53802/fitrah.v1i1.13
  18. Soeharso, R., Sodiq, I., & Wardayanti, R. (2022). Little Historian Model for Local History Learning. Paramita: Historical Studies Journal, 32(2), 306–314. https://doi.org/10.15294/paramita.v32i2.29962
  19. Sugiyono. (2020). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta, 2021.
  20. Sutrisno. (2022). Guru Melaksanakan Evaluasi Pembelajaran Di Era. ZAHRA: Research And Tought Elmentary School Of Islam Journal, 3(1), 52–60.
  21. Yusuf, M., & Arfiansyah, W. (2021). Konsep “Merdeka Belajar” dalam Pandangan Filsafat Konstruktivisme. AL-MURABBI: Jurnal Studi Kependidikan Dan Keislaman, 7(2), 120–133. https://doi.org/10.53627/jam.v7i2.3996