Main Article Content

Abstract

Background: Kekerasan seksual terhadap anak merupakan ancaman serius yang semakin meningkat di era digital, termasuk di wilayah DKI Jakarta. Perubahan pola hunian vertikal seperti rumah susun turut memengaruhi interaksi sosial dan pola pengasuhan, sehingga diperlukan upaya pencegahan yang mudah dipahami anak dan relevan dengan konteks komunitas. Program pendidikan komunitas ini menggunakan permainan tradisional Betawi sebagai media edukasi karena sifatnya yang partisipatif, menyenangkan, dan mampu mengembangkan kemampuan kognitif, sosial, serta pengendalian diri anak. Kegiatan dilaksanakan di Rusun Griya Tipar Cakung, Jakarta Timur, dengan melibatkan 35 anak berusia 6–17 tahun. Empat permainan tradisional Betawi Dampu Bulan, Wak-wak Gung, Congklak, dan Gobak Sodor diintegrasikan dengan materi mengenai pengenalan anggota tubuh pribadi, tanda bahaya, serta langkah perlindungan diri ketika menghadapi situasi berisiko. Evaluasi pra dan pascaprogram digunakan untuk mengukur efektivitas kegiatan. Hasil menunjukkan bahwa 94% peserta mengalami peningkatan pemahaman dari tidak paham menjadi paham terkait kekerasan seksual dan cara melindungi diri. Selain itu, kegiatan memperkuat interaksi sosial, membangun rasa solidaritas, dan menumbuhkan komitmen komunitas terhadap upaya pencegahan. Temuan ini menunjukkan bahwa permainan tradisional Betawi efektif sebagai media pendidikan komunitas dalam pencegahan kekerasan seksual pada anak dan berpotensi untuk direplikasi di komunitas rumah susun lainnya.

Keywords

Sexual violence, community education, Betawi.Kekerasan seksualedukasi masyarakatBetawi

Article Details

How to Cite
Suswandari, Susanti, E. N., & M. Alimudin. (2025). Kekerasan Seksual pada Anak melalui Permainan Tradisional Betawi di Rusun Griya Tipar Cakung, Jakarta Timur . Jurnal SOLMA, 14(3), 5476–5487. https://doi.org/10.22236/solma.v14i3.20330

References

  1. Bailey, J., Henry, N., & Flynn, A. (2021). Technology-Facilitated Violence and Abuse: International Perspectives and Experiences. In The Emerald International Handbook of Technology-Facilitated Violence and Abuse (pp. 1–17). Creative Commons Attribution (CC BY 4.0). https://doi.org/10.1108/978-1-83982-848-520211001
  2. Bishop, J.C. & Curtis, M. (2005). Permainan Tradisional Dan Kearifan Lokal Kampung Dukuh Garut Selatan Jawa Barat Jurnal Academica (Y. Hadiwati (ed.); 1st ed.). Grasindo.
  3. Eneman, M., Stahl, B. carsten, & Gillespie, A. (2010). Technology and sexual Abuse: a Critical Review of an Internet Grooming Case. Association for Information Systems AIS Electronic Library (AISeL).
  4. Fisher, C., Goldsmith, A., Hurcombe, R., & Soares, C. (2017). The impacts of child sexual abuse: A rapid evidence assessment (1st ed.). A INDEPENDENT INQUIRYINTO CHILD SEXUAL BUS.
  5. Gallagher, B. (2005). New Technology: Helping or Harming Children? Wiley InterScience, 14, 367–373. https://doi.org/10.1002/car.923
  6. Hidayat, D. (2013). Permainan Tradisional Dan Kearifan Lokal Kampung Dukuh Garut Selatan Jawa Barat. Jurnal Academica, 5(2), 1057–1070.
  7. Paramastri, I., Supriyati, & A., M. P. (2010). Early Prevention Toward Sexual Abuse on Children. Psikologi, 37(1), 1–12.
  8. Septiani, R. D. (2021). Pentingnya Komunikasi Keluarga dalam Pencegahan Kasus Kekerasan Seks pada Anak Usia Dini. Jurnal Pendidikan Anak, 10(1), 50–58. https://doi.org/10.21831
  9. Suswandari, Susanti, E. N., Handayani, O. D., Tjiptorini, S., Pramudiani, P., K, W. Q., Iswahyudi, Hidayat, A., Sugiono, & Habibi, P. (2020). Regulasi Penyediaan Rumah Susun dan Implementasi Kebijakan Kota Layah Anak di Wilayah DKi Jakarta. In - (Ed.), Potret Rusunawa Ramah Anak di DKI Jakarta (1st ed., pp. 3–29). UHAMKA Press.
  10. Zahirah, U., Nurwati, N., & Krisnani, H. (2019). DAMPAK DAN PENANGANAN KEKERASAN SEKSUAL ANAK DI KELUARGA. Prosiding Penelitian & Pengabdian Kepada Masyarakat, 6(1), 10–21.