Main Article Content

Abstract

Pendahuluan: Generasi penerus Minangkabau mengalami penurunan minat terhadap kearifan lokal, lebih terfokus pada kebutuhan pragmatis. Seni, adat, dan budaya dianggap tidak relevan karena menghabiskan waktu yang dapat digunakan untuk hal yang lebih praktis. Metode: Pengabdian dilakukan dengan metode Community Based Research melalui pelatihan berpidato/pasambahan yang mengandung nilai moral, serta pelatihan praktek keagamaan seperti memandikan mayat, mengkafani, menggali kubur, dan membaca kitab *Dalailul Khairat*. Hasil: Setelah pelatihan, masyarakat Koto Tangah tidak lagi kekurangan petugas adat untuk upacara adat dan keagamaan. Generasi milenial kini mampu melaksanakan tugas adat dan agama, seperti memandu acara formal dan mengurus jenazah. Kesimpulan: Penguatan adat *basandi syarak, syarak basandi Kitabullah* pada generasi milenial berkontribusi pada pelestarian kearifan lokal Minangkabau, baik dalam adat maupun agama.

Keywords

Adat Milenial Syarak

Article Details

How to Cite
Gazali, I., & S, Y. D. (2024). Penguatan ABS-SBK Bagi Generasi Milenial di Kanagarian Koto Tangah Kecamatan Tilatang Kamang Kabupaten Agam. Jurnal SOLMA, 13(2), 1244–1251. https://doi.org/10.22236/solma.v13i2.14695

References

Read More