ARKAVI [Arsip Kardiovaskular Indonesia]
https://journal.uhamka.ac.id/index.php/arkavi
<p>ARKAVI (Arsip Kardiovaskular Indonesia, Indonesian Cardiovascular Archive) is published twice a year (biannually) by the Faculty of Medicine , Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka, Indonesia.</p> <p>ARKAVI publishes original article, review articles and case reports or case series articles on the field of cardiology and vascular medicine. In addition, ARKAVI is a forum for articles that present the results of research, innovative ideas and new hypotheses that stimulate the original thinking in the field of cardiology and vascular medicine. </p> <p>ARKAVI accepts articles of original research and case reports that represent the advancement in cardiovascular science and practice. Basic medical research, translational research, clinical research and epidemiology/community research are welcomed to be submitted. </p> <p>Address: ARKAVI, FK UHAMKA, Kampus Parung Serab, Jalan Raya Raden Fatah, Parung Serab – Ciledug, Kota Tangerang. Email:arkavi@uhamka.ac.id. Tel:+6221-8604363, WA:+6287800050052</p>UHAMKA Pressen-USARKAVI [Arsip Kardiovaskular Indonesia]2528-3294<p><em>A letter of permission is required for any and all material that has been published previously. It is the responsibility of the author to request permission from the publisher for any material that is being reproduced. This requirement applies to text, illustrations, and tables.</em></p>Laporan Kasus: Tindakan Primary Percutaneous Coronary Intervention (PCI) pada Pasien STEMI dengan Onset Berbeda
https://journal.uhamka.ac.id/index.php/arkavi/article/view/20518
<p><strong>Latar Belakang:</strong> ST-Segment Elevation Myocardial Infarction (STEMI) disebabkan oleh oklusi trombotik total pada arteri koroner, yang dapat menyebabkan kematian mendadak dan memerlukan tindakan darurat. Percutaneous Coronary Intervention (PCI) merupakan metode utama untuk memulihkan aliran darah koroner. <strong>Metode:</strong> Studi kasus pada pasien STEMI dengan onset gejala kurang dari 12 jam dan lebih dari 12 jam yang menjalani tindakan PCI. <strong>Hasil:</strong> Pasien yang menjalani PCI dalam waktu kurang dari 12 jam setelah onset gejala menunjukkan hasil yang lebih efektif, durasi tindakan dan perawatan yang lebih singkat, serta tanpa komplikasi daripada onset lebih dari 12 jam. <strong>Kesimpulan:</strong> PCI yang dilakukan dalam waktu kurang dari 12 jam setelah onset gejala pada pasien STEMI memberikan hasil yang lebih efektif dengan waktu tindakan dan perawatan yang lebih singkat.</p>Nurlasmi SalawaniFachmi Ahmad MuslimAditiawarman
Copyright (c) 2026 ARKAVI [Arsip Kardiovaskular Indonesia]
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-02-132026-02-1380291910.22236/arkavi.v8i02.20518Laporan Kasus: Gambaran Pemeriksaan Ekokardiografi Pada Pasien Hipertensi Pulmonal Dengan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)
https://journal.uhamka.ac.id/index.php/arkavi/article/view/20506
<p><strong>Latar Belakang </strong>Pulmonary hypertension (PH) adalah kondisi dengan tekanan tinggi pada pembuluh darah paru yang dapat muncul sebagai komplikasi penyakit jantung dan paru. Salah satu penyebab PH adalah Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD), yaitu gangguan aliran udara yang menimbulkan hipoksia dan meningkatkan tekanan arteri paru. <strong>Metode: </strong>penelitian ini menggunakan desain studi kasus deskriptif pada seorang pasien perempuan berusia 72 tahun dengan diagnosis PPOK di RSUD Cibinong. Pengukuran dilakukan terhadap Tricuspid Regurgitation Velocity max (TRVmax), Tricuspid Annular Plane Systolic Excursion (TAPSE), dan mean Pulmonary Artery Pressure (mPAP). <strong>Hasil: </strong>pemeriksaan ekokardiografi menunjukkan nilai TRVmax 3,4 m/s, mPAP 32 mmHg, dan TAPSE 19 mm. Ditemukan pula adanya dilatasi atrium dan ventrikel kanan, namun fungsi sistolik ventrikel kiri tetap terjaga (Ejection Fraction 70%). Berdasarkan parameter tersebut, pasien dikategorikan memiliki probabilitas tinggi (High Probability) menderita Hipertensi Pulmonal. <strong>Kesimpulan: </strong>Ekokardiografi mendeteksi hipertensi pulmonal pada pasien PPOK dengan peningkatan TRVmax dan mPAP sebagai indikator probabilitas tinggi.</p>Diajeng CarolineZul EfendiNurhayati
Copyright (c) 2026 ARKAVI [Arsip Kardiovaskular Indonesia]
https://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0
2026-02-112026-02-118021810.22236/arkavi.v8i02.20506